Tingkatkan Lapangan Pekerjaan, Pemerintah Ajak Kampus Dukung 18 PSN Hilirisasi

Jakarta – Pemerintah menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung percepatan hilirisasi industri nasional yang menjadi salah satu motor utama penciptaan lapangan pekerjaan. Presiden Prabowo Subianto meminta kampus di seluruh Indonesia untuk memperkuat riset dan inovasi yang selaras dengan kebutuhan industri, khususnya dalam mendukung 18 Proyek Strategis Nasional (PSN) berbasis hilirisasi. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam dialog tertutup bersama sekitar 1.200 rektor dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Pemerintah memandang kampus sebagai fondasi utama dalam menyiapkan SDM unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, seiring dengan agenda besar industrialisasi dan hilirisasi yang akan dipercepat dalam beberapa tahun ke depan.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa riset perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menopang program prioritas pemerintah, mulai dari swasembada pangan dan energi hingga penguatan industri nasional. Menurutnya, percepatan hilirisasi tidak hanya membutuhkan investasi fisik, tetapi juga kesiapan SDM yang mumpuni. “Mempersiapkan industrialisasi dan hilirisasi yang tahun ini akan mulai dilakukan groundbreaking besar-besaran tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers usai pertemuan tersebut.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Presiden Prabowo memutuskan penambahan anggaran riset perguruan tinggi sebesar Rp4 triliun. Prasetyo menegaskan, tambahan anggaran ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem riset nasional dan mendorong kolaborasi yang lebih erat antara universitas dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Harapannya ini dapat memperkuat riset-riset untuk seluruh universitas, termasuk bekerja sama dengan BRIN,” katanya.

Penguatan riset kampus dinilai penting karena pemerintah menargetkan kemandirian teknologi nasional. Presiden juga meminta civitas akademika untuk terlibat aktif dalam pengembangan inovasi yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui inovasi dan kewirausahaan berbasis teknologi.

Selain isu riset, pemerintah turut menyoroti pembiayaan pendidikan tinggi dan perluasan akses beasiswa bagi mahasiswa. Prasetyo mengungkapkan bahwa dari sekitar 9,9 juta mahasiswa aktif di Indonesia, jumlah penerima beasiswa masih relatif terbatas. “Bapak Presiden memberikan arahan kepada kami untuk menghitung ulang dan memformulasikan kembali bagaimana memperbesar sebanyak-banyaknya penerima beasiswa,” ujarnya.

Pemerintah berharap sinergi yang kuat antara kampus, industri, dan negara dapat melahirkan SDM unggul yang menjadi tulang punggung hilirisasi industri. Upaya ini diyakini tidak hanya memperkuat daya saing nasional, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan luas dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top